Gerakan Seni Rupa Berdialog: Beberapa Upaya Mengeklik Publik

img

Fokus terbesar Gerakan Seni Rupa Bogor adalah mengobservasi dan menggiatkan praktik-praktik seni rupa di Bogor. Melalui program yang telah kami adakan sejak 2016, kami berupaya memetakan faktor-faktor yang berperan dalam menunjang keberlangsungan seni rupa di Bogor. Kami mengaktivasi setidaknya tiga faktor utama: seniman, ruang/artspace dan audiens, yang diupayakan melalui gelaran seperti pameran, diskusi hingga acara kolaborasi dengan penggiat dan komunitas lintas disiplin di Bogor. Upaya ini tetap berlanjut, dan kali ini kami mencoba menempatkan fokus pada peran pendidikan seni, ruang publik dan persepsi penduduk Bogor mengenai seni rupa yang dibentuk oleh keduanya. 

Bogor tidak memiliki kampus seni resmi,1 namun mari pertanyakan kembali dampak dan urgensinya. Menimbang kedudukannya di kota-kota di Indonesia, kampus seni merupakan salah satu faktor yang menunjang keberlangsungan ekosistem seni di wilayahnya dengan peran untuk mendistribusikan pendidikan seni akademis dan bertindak sebagai laboratorium bagi calon seniman dan pelaku seninya. Setiap kampus di setiap kota memiliki kurikulum yang berbeda tapi kiranya memiliki fungsi yang sama. Namun, jika melihat perannya sebagai ‘pendidik’, kampus seni hanya bermain di ranah akademis. Ia tidak menjadi suatu keharusan bagi penduduk Bogor yang ingin mengeksplorasi praktik seni rupa, sehingga, fungsi pendidikan seni di Bogor bisa ditinjau dari faktor lain; tidak perlu kampus.

Ja, kampus seni di Bogor belum menjadi desakan. Kita masih bisa memanfaatkan ruang dan sarana yang tersedia dan menjangkau pusat-pusat pendidikannya. Bogor dekat dengan Jakarta dan Bandung; dua kota dengan banyak opsi program studi seni, desain dan budaya. Kuliah di Yogyakarta pun bukan keputusan yang berat jika konteksnya adalah ‘jauh dari Bogor.’ Beberapa kolega kami betah dan sukses berkiprah di sana. Ada pula model-model ‘sekolah alternatif’ dengan kurikulum spesifik seperti kekuratoran, arsip dan konservasi seni. Penduduk Bogor yang hendak berkunjung ke galeri atau museum di Jakarta juga relatif mudah dan murah. Satu garis Commuter Line Bogor - Jakarta Kota sudah memudahkan kita jalan-jalan ke sana. Menimbang ragam akses ini, penduduk Bogor sebenarnya sudah sangat terbuka pada akses ‘pendidikan seni’ serta berkesempatan untuk mengenal tren-tren seni rupa yang hadir saat ini. Kita tidak akan ketinggalan jaman karena masih bisa menjangkau pusat-pusat keseniannya, terlepas dari absennya kampus dan lembaga seni yang punya andil dalam menghidupkan ekosistem seni di suatu kota. 

Persepsi dan awareness penduduk Bogor terhadap seni dan budaya bisa dibentuk ketika kita berkesempatan untuk berkunjung, berkuliah atau bekerja di kota-kota di pulau Jawa dengan geliat kesenian yang lebih hidup ketimbang Bogor. Jika persepsi ini dibentuk ketika mereka bersinggungan dengannya, mungkinkah persepsi yang sama dapat dibentuk di kotanya sendiri? Bagaimana Bogor, beserta prasarana yang ada, dapat membentuk wawasan penduduknya mengenai seni rupa? Atau jika kampus dan lembaga seni absen di kota ini, apa faktor yang dapat menggantikan peran itu?

Jika ada pameran atau kegiatan seni di Bogor, maka gelaran itu hadir di ruang kepemilikan bersama: taman, kafe atau co-working space. Gelaran-gelaran serupa bisa ditinjau dari 2010-an sejak dibentuknya White Paper Artspace 2 (2011) hingga kini. Kami tidak bisa menyebut ruang-ruang tersebut sebagai alternative space, karena tidak ada space (ruang) otonom yang bisa di-alternate di Bogor. Dari ruang-ruang inilah penduduk Bogor bisa bergiat, berkunjung dan terlibat di gelaran seni dan budaya. Frekuensi gelaran dan apresiasi dari pengunjungnya memang belum bisa ditebak, tapi kegiatan-kegiatan ini sudah mampu menghidupkan iklim berkesenian di Bogor. Justru dari ruang-ruang inilah pelaku dan pengunjung bisa saling berinteraksi dan membangun relasi. Sehingga, sekali lagi, kebutuhan akan ruang-ruang mapan seperti kampus, dan kini ‘ruang pamer’, belum mencapai ambang gawat. Penduduk Bogor masih bisa menyiasati dan memanfaatkan secara penuh ruang-ruang yang ada, hanya mungkin yang dibutuhkan adalah keberlangsungan dalam menggunakan ruang-ruang tersebut.

Kebijakan Wali Kota Bogor 2014 - 2019 juga memiliki peran dalam membangun ruang-ruang publik. Semenjak menjabat, Bima Arya berfokus pada city branding dengan menjalankan proyek-proyek penataan ulang wajah kota; pembangunan ruang terbuka hijau, pemugaran trotoar, hingga penataan sistem transportasi umum. Salah satu inisiatif terbesar adalah mengubah sistem jalan raya daerah Kebun Raya Bogor (KRB) menjadi satu arah sebagai upaya menata transportasi umum.3  Tidak lama setelahnya, Pemerintah Kota juga membangun ‘monumen-monumen identitas’ seperti Lawang Salapan dan Lawang Suryakancana yang berada di sekitar KRB. Semua pembangunan ini sangat berkaitan dengan inisiatif kedua dari Bima Arya, yaitu pembentukan identitas kota. Ia mencanangkan 3 identitas baru bagi Kota Hujan: Kota Pintar (smart city), Kota Hijau (green city) dan Kota Pusaka (heritage city).4 Implementasi yang mengarah pada pembentukan ketiga identitas ini kiranya sudah cukup terlihat dari penataan besar-besaran dalam 4 tahun terakhir. Penataan fisik yang cukup jelas perbedaannya membuat adanya perubahan persepsi penduduk Bogor akan ‘ruang’ yang dilewatinya sehari-hari. 

Tata kota tentu tidak secara langsung menjadi model pendidikan yang membentuk persepsi penduduk Bogor terhadap seni rupa. Saya rasa, pengubahan-pengubahan ini sebatas membentuk persepsi kita pada ‘ruang’ yang hadir di tengah kota dan potensi-potensi yang dapat hadir di ruang tersebut; mengadakan penayangan film, misalnya, atau sebagai lokasi foto, atau jogging track. Namun, jika melihat adanya perayaan-perayaan berupa pendirian patung dan monumen Lawang, kami berasumsi bahwa hal ini bisa menjadi pintu masuk obrolan dengan penduduk Bogor mengenai ‘seni rupa’ yang mereka lihat ketika mengendarai motor atau mobil mengitari kota. Hal yang kami butuhkan adalah satu klik, dan klik itu bernama dialog. 

Selayaknya persepsi yang terbentuk ketika adanya pemugaran ruang, kami juga menganggap bahwa pembangunan patung, monumen, serta bentuk ‘seni rupa’ lain yang hadir di tengah kota juga membentuk pengalaman penduduknya mengenai medium. Objek-objek dengan unsur ke-seni-rupa-an. Dikarenakan patung dan monumen tidak akan lari kemana-mana, lantas penduduk Bogor sudah terbiasa dengan medium itu. Jika kita sepakat demikian, maka sesungguhnya ‘seni rupa’ sudah hadir di tengah Bogor. Kami telah menceritakan Lawang Salapan dan Lawang Suryakancana di sekitar KRB. Selain itu, ada Tugu Kujang sebagai simbol Bogor di daerah yang sama. Ada pula patung Gerakan Anti Narkoba dan patung Kapten Muslihat yang ikonik. Bentuk-bentuk tiga dimensi ini bersifat monumental dan sangat bersinggungan dengan ruang di sekitarnya. Bicara ruang, ada pula Taman Kencana, Taman Ekspresi dan Taman Corat-coret yang juga menjadi bagian dari penataan ulang dalam empat tahun terakhir. Jika kita membicarakan ruang dan medium, maka sebenarnya patung, monumen serta prasarana kota saling terkait dan telah menjadi asupan visual warga Bogor di keseharian.

Demi menguji hipotesis yang sangat ambisius ini, maka kami menginisiasi kegiatan yang berhubungan dengan percakapan mengenai kota, ruang, patung, monumen hingga prasarana kota. Hal ini kami lakukan karena wawasan mengenai seni rupa, terkhususnya ruang, tidak bisa terbentuk hanya dengan melihat. Hal ini merupakan interaksi pasif di mana penduduk tidak mengasosiasikan benda yang dilihatnya sebagai ‘seni rupa’ beserta segala potensinya. Maka kami membutuhkan percakapan agar publik bisa dapat terlibat secara aktif dalam percakapan dan mengutarakan pendapatnya mengenai objek-objek yang dilihatnya, terlepas dari apapun latar belakang pendidikannya. Kami menjadikan mereka rockstar, pengamat, kritikus, sebut yang lain.

Kami menggagas beberapa bentuk percakapan dengan pendekatan yang berbeda-beda. Percakapan ini membahas wacana praktik seni rupa dan ruang-ruang kota, hingga kesenian guyub yang hadir di masyarakat Bogor. Percakapan ini kami jadikan beberapa rubrik yang mengisi buku Gerakan Seni Rupa Bogor ini. 

Percakapan pertama kami lakukan dengan publik yang luas dan tak hanya penduduk Bogor. Belakangan, kami melontarkan voting di Instastory untuk melihat pendapat responden mengenai ruang-ruang publik yang ada di Bogor. Di bawah tajuk ‘Dialog Identitas,’ kami meminta responden untuk memilih ruang-ruang yang ada di Bogor yang dapat dijadikan tempat mengaktivasi kegiatan, terutama pameran. Kemudian, kami melanjutkan pertanyaan ini secara offline dengan terjun ke lapangan. Teruntuk inisiatif awal, kami memulainya dengan Tugu Kujang, Sang Simbol Kota Pusaka.

Kami juga selalu mengajak kolega yang tinggal di Bogor untuk mengutarakan pendapatnya tentang kota ini setelah mereka kuliah atau bekerja di kota-kota besar di pulau Jawa, karena nyatanya persepsi tentang ‘Bogor’ dan ‘rumah’ berubah justru ketika kita melihatnya dari kota lain. Terinspirasi dari esai berformat unik dari kurator Jim Supangkat, yaitu ‘Wawancara Saya dengan Saya’ (1979), kami mencoba hal yang serupa dengan gagasan ‘Wawancara Aku, Mengenai Bogor.’  Gagasan ini mengajak teman-teman untuk mewawancarai diri sendiri mengenai Bogor. Bagaimana kita mengasosiasikan Bogor? Ini merupakan pertanyaan yang bisa Anda tanyakan ke diri Anda.

Kami juga mengunjungi beberapa kampung di Bogor untuk membuka percakapan dengan penduduknya, sang ‘publik’ yang selalu kita tuju. Pastinya ada inisiator di balik kampung-kampung tematik, terlepas dari latar belakang pendidikannya, yang kemudian bisa disetujui oleh seluruh penduduk yang tinggal di kampung tersebut. Hal inilah yang kami coba kulik ketika mengunjungi Kampung Warna-warni (Kawani), Kampung Pulo Geulis, Kampung Mozaik dan Kampung Asian Games 2018; semuanya berada di daerah Kota Bogor.

Ketiga gagasan percakapan ini merupakan klik yang kami maksud. Tentunya, ada model-model lain untuk membahas keterkaitan pendidikan seni, serta persepsi seni yang dibentuk oleh penataan dan prasarana Kota Bogor. Asumsi pun mungkin belum bisa dibuktikan, namun kami rasa saat ini keterlibatan dalam percakapanlah yang menjadi kunci untuk terus menyebarkan wacana seni rupa di Bogor.

1 Sempat ada kampus swasta Akademi Kesenian Bogor (AKSEN) pada 1993-1994 dengan peminatan Tari dan Karawitan. Kini non-aktif.

2 White Paper Artspace adalah sebuah wadah bagi pelaku seni dan industri kreatif dari Kota Bogor. White Paper dibentuk salah satunya oleh Yoga Prathama pada akhir 2011 setelah memutuskan untuk berkumpul dan bergiat di kota kelahirannya. Berawal dari sebuah forum diskusi hingga akhirnya tercetus ide untuk membuat sebuah ruang aktivasi dan interaksi. Inisiatif ini terbuka bagi berbagai kegiatan interaktif seperti mural di tembok kafe. Pada tahun-tahun tersebut, kafe dengan konsep artspace belum menjamur di Kota Bogor. Kini non-aktif.

3 ‘Mulai 1 April, Jalur Seputar Kebun Raya Bogor Jadi Satu Arah,’ Tempo.co. Kamis, 3 Maret 2016 05.14 WIB. Diakses pada 15 September 2018 19.33 WIB. Lihat pula berita tentang Bogor periode Maret - April 2016 perihal Sistem Satu Arah (SSA) kawasan Kebun Raya Bogor.

4 ‘Visit Bogor Year 2018 Jadi Program Prioritas Bima Arya,’ Republika.co.id. Rabu, 3 Mei 2017 02:30 WIB. Diakses pada 15 September 2018 19.48 WIB.