Mari Mencari Cara agar Urgensi itu Benar Adanya

img

Pada 2016 Gerakan Seni Rupa Bogor menyelenggarakan pameran perdananya, Hujan Keras! Exhibition. Pameran ini mengundang perupa-perupa asal Bogor yang berkuliah atau bekerja di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta, untuk mengilustrasikan band-band asal Bogor dalam bentuk poster. September ini, Hujan Keras! berevolusi menjadi Ngariung dina Huis. Pameran ini tetap menggunakan format yang sama, yang membedakan adalah medium karya yang tidak lagi poster, melainkan medium yang para perupa tekuni sesuai di disiplinnya masing-masing, sehingga di pameran ini audiens dapat menyaksikan mulai dari seni serat sampai desain produk; mural sampai instalasi. Semua bertujuan untuk menunjukkan bahwa Bogor memiliki banyak pelaku seni. Alasan ini memang terkesan naif, tetapi terdapat satu pertanyaan naif yang melandasinya, “Adakah seni rupa di Bogor?”

Ada dan seperti apakah kesenian di Bogor? Misteri ini seketika urgen untuk disingkap. Terdapat wacana yang lebih besar ketimbang “pameran seni rupa” sebagaimana yang telah Gerakan Seni Rupa Bogor (untuk selanjutnya disingkat GSRB) lakukan pada awalnya. Setelah Hujan Keras!, saya mencoba meninjau ulang “seni rupa” di Bogor beberapa tahun belakangan. Faktor yang saya coba selidiki adalah pameran seni dan ruang berkesenian di Bogor. Saya meng-interpiu beberapa teman yang lebih dulu bergiat di kegiatan anak muda Bogor. Saya juga berselancar di Facebook dan Twitter untuk mencari materi-materi publikasi acara seni di Bogor. Saya menemukan bahwa Bogor banyak bergerak di komunitas; terdapat informasi mengenai forum pelukis, komunitas ilustrasi tinta hitam, lembaga kesenian dan kebudayaan, sampai komunitas-komunitas berbasis anak muda. Para pelaku ini telah mengadakan pameran di lingkup komunitasnya masing-masing, dan menggunakan kafe dan taman sebagai ruang alternatifnya; Bogor tidak memiliki galeri seni rupa.

Dari situ saya menyimpulkan bahwa sebenarnya “seni rupa” di Bogor sudah “ada”, tapi tidak berkelanjutan. Inilah salah satu penyebab mengapa iklim seni rupa di Bogor tidak terasa layaknya kota-kota lain. Salah satu kendalanya adalah ruang. Bogor memiliki gedung Kemuning Gading, tetapi fungsinya tidak tunggal menjadi galeri seni rupa jika kita sepakat ruang konvensional untuk kegiatan seni rupa adalah galeri. Lantas, perupa-perupa di Bogor menyiasati ini dengan ruang alternatif. Menariknya, ketiadaan ruang konvensional di Bogor justru menjadikan ruang alternatif sebagai ruang yang konvensional, karena inilah “konvensi” yang digunakan para perupa untuk menyelenggarakan pamerannya. Ruang alternatif merupakan siasat perupa untuk tetap bertahan hidup. Namun, menjadikan kafe, co-working space, atau taman sebagai ruang alternatif bukanlah satu-satunya pemecah masalah. Praktik-praktik “idealis” yang tidak menghasilkan uang tidak bertahan lama. Kendala inilah yang agaknya membuat para perupa lebih memilih bergiat di kota-kota lain.

Pameran yang telah diadakan oleh GSRB bermodalkan kerjasama dengan komunitas lintas kota. Hujan Keras! sendiri diadakan atas kerjasama dengan kolektif seni rupa Mata Kiri. Selanjutnya, GSRB bekerjasama dengan kolektif film Kaboki saat menyelenggarakan Boitnzorkh. GSRB juga mendukung kolektif seni grafis Harian Cetak di ajang Soft Launching Harian Cetak, sedangkan di People Exhibition dan ARTMERC: Artist’s Merchandise Exhibition, GSRB bertindak sebagai wadah yang mempertemukan perupa, komunitas, dan media massa lintas kota. Di sini kita melihat praktik jejaring sebagai modal lain untuk mengadakan pameran selain ruang alternatif, jika yang ditujukan adalah menggaungkan “seni rupa” secara berkelanjutan.

Ada dan seperti apakah kesenian di Bogor? Pertanyaan ini belum terjawab sepenuhnya, tetapi mampu membuat  GSRB harus “melihat ke belakang” untuk “mengadakan sesuatu di masa depannya”. Paparan di atas setidaknya mengemukakan secara singkat bahwa “seni rupa” di Bogor itu “ada”, tapi tidak berkelanjutan. Terdapat banyak pelaku seni di Bogor yang menjadikan ruang alternatif sebagai salah satu modal bertahan hidupnya. Modal lainnya adalah berjejaring. Melihat pameran setahun belakangan, GSRB telah mempertemukan banyak pelaku seni di Bogor, bahkan, memanggil pulang perupa yang berkiprah di kota lain. Sejauh ini, apa yang telah --dan agaknya akan GSRB terus lakukan adalah merajut kembali “seni rupa” yang terputus itu. Paparan ini membuat saya lanjut ke pertanyaan kedua, “Mengapa eksistensi seni rupa di Bogor bisa dipertanyakan?”

Jika “ada”, mengapa eksistensinya dipertanyakan? GSRB terdiri dari manajer seni, desainer grafis, dan penulis yang menempuh pendidikan seni rupa di Jakarta. Jika kita hitung mundur dari tahun terbentuknya, yaitu 2016, perupa yang tergabung di GSRB setidaknya sudah melihat 2 kali ajang Jakarta Biennale, beserta ajang seni rupa kontemporer lainnya. Begitupun perupa dari Bandung dan Yogyakarta yang sama terbiasanya dalam “mengalami” seni rupa. Pengalaman inilah yang tidak dirasakan di Bogor. “Seni rupa” yang dimaksudkan di sini adalah suatu ekosistem yang terdiri dari perupa sebagai produsen dan kreator seni, ruang berkesenian sebagai tempat presentasi, dan audiens sebagai apresiator. Ekosistem ini terkait satu sama lain dan didukung oleh lembaga seni dan industri kreatif yang menghidupinya (Yayasan Jakarta Biennale 2015; 19, 26, 44). “Seni rupa” inilah yang menurut GSRB “tidak terasa”, dan walaupun ingin direalisasikan, disadari terlalu besar bagi Bogor. Maka dari itu, sebermula adalah pameran poster sebagai medium yang “mudah” untuk dicerna, bahkan harus berkolaborasi dengan musik sebagaimana iklim musik anak muda di Bogor jauh lebih hidup. Saya mendapati bahwa “seni rupa” yang dimaksudkan oleh GSRB berdasarkan pengalaman yang didapatkannya di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta, ingin juga dialami di Bogor, maka dari itu urgen untuk direalisasikan, bagai aksi sekumpulan aktivis yang memperjuangkan “hak mengalami seni rupa” bagi Bogor. 

Penulisan di atas memaparkan bahwa selain pelaku seni, GSRB merupakan wadah jejaring yang melalui pameran mempertemukan perupa dan komunitas lintas kota. Dengan tujuan merealisasikan ekosistem seni rupa yang dimaksud, GSRB juga menjadi “aktivis” yang memperjuangkan hidupnya ekosistem tersebut. Di awal kita bertanya-tanya, “adakah seni rupa di Bogor?”, lalu didapati bahwa hal tersebut “belum ada”, dan “seni rupa” yang dimaksud di sini adalah sebuah ekosistem di mana pelaku, ruang, dan apresiator dapat hidup dalam satu siklus yang berkelanjutan. Lalu, kita mendapati bahwa “seni rupa” itu sangatlah berbeda dengan pengalaman yang didapatkan oleh GSRB di kota-kota lain. Lantas, praktik yang dilakukan GSRB dan komunitas-komunitas lain bertujuan untuk merealisasikan ekosistem seni rupa itu sehingga masyarakat Bogor dapat menikmatinya. Kesimpulan ini melabuhkan saya ke pertanyaan ketiga, “Apa yang membuat “seni rupa” urgen hadir di Bogor?”

Untuk siapa pameran seni rupa di Bogor diadakan? Saya menyadari pertanyaan ini terlalu cepat dilontarkan, tapi tidak pula memungkiri kehadirannya. Saya selalu menduga bahwa sebenarnya yang membutuhkan “seni rupa” di Bogor adalah justru pelaku seninya sendiri, dengan pengalaman “seni rupa”-nya sendiri, dan bukan masyarakat Bogor yang selama ini ditujukan sebagai apresiator seni dan subjek yang tidak mengalami pengalaman yang sama dengan para pelaku seni. Ekosistem seni rupa yang dianggap “tidak ada” inilah yang harus kembali dipertanyakan. Meninjau kerja GSRB setahun belakangan, saya melihat sebuah pola kerja yang rangkap sana-sini: perupa, penyelenggara, wadah berjejaring, dan “aktivis”; demi mengisi ruang abstrak bernama “seni rupa (di) Bogor”. Sembari terus berpameran dan berdiskusi, GSRB mencoba merumuskan “seni rupa” yang tepat sehingga masyarakat Bogor merasakan pengalaman yang sama. 

Tulisan ini mengajak pembaca untuk meninjau urgensi ini. Jika selama ini Bogor baik-baik saja tanpa ekosistem yang diidam-idamkan, mari mencari sebaliknya agar Bogor tidak baik-baik saja tanpa “seni rupa” itu. Mari mencari cara agar urgensi itu benar adanya.


Esai pengantar pameran Ngariung dina Huis (2017)