Mencari Rupa di Sela-Sela Hujan

img

Malam itu adalah malam pertama Festival Taman Kencana 2016. Tidak begitu ramai pengunjung, tapi di sekitaran taman kian berkumpul pegiat-pegiat seni muda di Bogor. Tak lupa ada rentetan band yang membuat riuh malam yang sepi itu, dan ada pembacaan puisi. Gerimis datang, pujangga itu tidak peduli. Ia tetap membaca puisinya lantang. Puisinya lebih sakral dari hujan, apalagi gerimis. Lalu teman saya menghampiri, minta dituliskan caption di Instagram. Untuk foto yang akan diunggah itu, saya menulis begini:

Malam ini Festival Taman Kencana ada di Taman Kencana ditemani gerimis. Kami bisa pastikan gerimisnya tidak akan menjadi hujan dan hujannya tidak akan besar, karena hujan yang sesungguhnya, hujan yang keras, ada di sini: Hujan Keras! Music Poster Exhibition.

Foto itu menggambarkan tenda kecil yang di dalamnya bergantungan poster-poster. Pameran itulah hujan yang sebenarnya, Hujan yang Keras.

Hujan Keras! Music Poster Exhibition adalah pameran seni rupa yang merespons musik dan band kota Bogor dengan medium utama poster. Pameran ini merupakan acara paralel Festival Taman Kencana (9-11/12/16) di Taman Kencana, Bogor. Diselenggarakan oleh kolektif muda bernama Gerakan Seni Rupa Bogor, Hujan Keras! membuka jalur kolaborasi satu arah bagi para perupa untuk mengolah lagu-lagu atau gaya musik band yang direspons.

Hujan Keras! menghadirkan perupa-perupa domisili Bogor yang menempuh pendidikan dan/atau berkiprah di tiga kota besar: Jakarta, Bandung dan Yogyakarta. Mereka bergerak di wilayah yang iklim seni rupanya hidup oleh faktor seperti institusi, lembaga dan komunitas seni rupa. Menjadi pertanyaan tentunya, bagaimana bekal itu terlihat ketika para perupa berpameran di kota yang iklim seni rupanya belum berkembang –kotanya sendiri?

Hujan Keras! tidak bisa dilihat hanya sebagai pameran yang merespons musik menjadi karya seni rupa saja. Sederhana, namun latar belakang yang menunjang pameran ini tak kalah menariknya: Hadirnya kolektif Gerakan Seni Rupa Bogor itu sendiri, pola/praktik pameran, beserta para perupanya, semua berkaitan untuk mengisi ruang kosong bernama seni rupa (di) Bogor.

Seni Rupa (di) Bogor?

Membaca iklim seni rupa di Bogor harus melalui pemetaan kecil-kecilan terhadap prasarana yang ada di tahun-tahun belakangan ini. Prasarana utama adalah tentu pelaku-pelaku seni rupa berbagai generasi. Banyak pelaku seni asli Bogor (menetap atau tidak) yang berkiprah di luar kota Bogor, tetapi sejauh ini belum ada yang kembali pulang dan secara konsisten membangun iklim seni rupa di rumahnya sendiri. Mungkin sedikit dan gaungnya belum terasa. Ketimbang individu, pelaku seni di Bogor lebih banyak komunitas/kolektif. Banyak kegiatan skala kecil yang rutin mereka selenggarakan. Kita mengenal beberapa komunitas, seperti: Bogor Sketchers, Sketching Sunday dan Pena Hitam Bogor. Ketiga komunitas ini fokus pada karya-karya sketsa dan ilustrasi. Untuk komunitas yang fokus di bidang ilustrasi dan desain grafis, ada Aptisakra Studio. Sedangkan komunitas yang fokusnya menyentuh ranah seni rupa kontemporer, ada 247 Artspace. Bicara 247 Artspace, saya baru tahu bahwa sempat ada komunitas seperti ini. Mereka terbit secara gemilang lalu tenggelam begitu saja. Ketika saya mengulik kegiatan-kegiatannya melalui situs jejaring dan media sosial era Twitter, saya cukup kaget. Sudah ada kolektif sehebat ini di Bogor.

Prasarana lain adalah wadah presentasi. Bogor memang tidak memiliki galeri seni rupa konvensional, tetapi ada ruang-ruang alternatif. Beberapa di antaranya, ada Season Gallery, yang pada tahun 2015 menyelenggarakan pameran Sketchboard. Lalu, seperti sudah disebut sebelumnya, ada Aptisakra Studio yang mewadahi banyak kegiatan seperti pameran, diskusi dan lokakarya. Dan yang menarik adalah Whitepaper Café. Café/artspace inilah yang mewadahi 247 Artspace untuk menyelenggarakan pameran Whatever Exhibition di tahun 2013. Pameran ini mungkin yang pertama kali memperkenalkan kekuratoran dalam pameran seni rupa kontemporer di ruang alternatif (café/artspace) yang mungkin juga pertama kali hadir di Bogor. Saat itu kuratornya adalah Yoga Prathama, alumni Insitut Teknologi Bandung (ITB). Menurut Izzudin Jundi, sebagai salah satu penggagas, di tahun yang sama, mereka menyelenggarakan lagi pameran bernama ‘Stock Exhibition’. Kali itu pamerannya bermain dengan media instalasi, fotografi, bahkan pixel art. Masih di tahun yang sama, ada MEGALOMANIAK Art Exhibition, media karyanya juga sudah menyentuh instalasi. Sudah ada kesadaran sehebat itu untuk berpameran dengan memperkenalkan hal-hal di muka. Kemana mereka –para pelopor seni kontemporer di Bogor?

Usaha untuk menyelenggarakan pameran seni rupa dengan skala yang lebih besar terlihat di Bogor Art Movement (BAM) 2015. Pameran ini melibatkan banyak perupa dengan merespons ruang publik. Perupa yang terlibat salah satunya adalah Yana WS, pematung senior. Beberapa kali terlibat dalam pameran TRAX yang diselenggarakan oleh Asosiasi Pematung Indonesia (API), di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Masih di acara yang sama, di Mall Botani Square digelar pameran seni lukis yang melibatkan pelukis senior seperti Jerry Thung dan Toto BS. Kedua tokoh ini masing-masing sudah berpameran tunggal di Galeri Cipta 2 TIM tahun 2014.

Prasarana lain yang harusnya mendorong kuat potensi seni adalah lembaga. Di pertengahan tahun 2016, Bogor resmi membentuk kepengurusan Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Bogor (DK3B) periode 2016-2020. Usmar Hariman, Wakil Wali Kota Bogor lulusan Arsitektur Lansekap, merangkap menjadi ketuanya. Siapa Ketua Komite Seni Rupanya belum dipublikasikan (atau sudah?), yang jelas, Bogor menunggu langkah-langkahnya, karena selama ini mereka tidak terlihat. Keberadaannya pun dipertanyakan. Berbeda dengan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) misalnya, mereka ada dan secara ramah bisa dijumpai melalui situs jejaring dan akun media sosial sebagai akses informasi. DKJ juga menjadi satu contoh prasarana perangsang iklim seni yang sehat. Sadar akan potensi di bidang kreatif yang tidak akan habis, DKJ senantiasa mendukung banyak pelaku-pelaku seni berpotensi. Di bidang seni rupa itu sendiri, DKJ bersama ruangrupa membuka Kelas Penulisan dan Kuratorial Seni Rupa. Setiap tahun diperbarui dan diperketat sistemnya demi memunculkan pelaku seni yang benar emas. Lalu di bidang lain, belum lama ada Festival Teater Jakarta 2016. Lalu ada Sayembara Menulis Novel di bidang sastra. Inisiatif seperti ini belum terlihat oleh DK3B, atau mungkin sudah, hanya saja tidak diarsipkan dengan rapi.

Utopia Seni Rupa dan 3 Kota

Seni rupa di Bogor seakan diidam-idamkan. Kunci utamanya adalah membangun ekosistem. Menimbang penulisan di muka, prasarana untuk menghidupkan iklim seni rupa di Bogor sebenarnya sudah ada. Timbul pertanyaan, mengapa seni rupa di Bogor belum juga ‘ada’? Jawabannya karena prasarana tersebut belum padu.

Hal yang harus diperhatikan adalah intens atau tidaknya prasarana itu, secara kuantitas dan kualitas. Ketika proses kreasi dan produksi seni berkembang, kebutuhan untuk menciptakan wadah pasti ikut berkembang. Ketika wadahnya berkembang, kesadaran (awareness) orang-orang untuk datang atau terlibat di kegiatan-kegiatan seni –sebagai bentuk apresiasi– pasti akan tumbuh. Pola produksi-distribusi-konsumsi seni ini mungkin terlihat sederhana, tapi tidak akan jadi secara instan. 247 Artspace, yang terdiri dari pelaku-pelaku dari Jakarta dan Bandung, dan Whitepaper Café, sudah menjadi pelopor yang gemilang, namun akhirnya hilang-hilang juga. Mereka hidup di lingkungan yang belum mendukung satu sama lain. Bayangkan ekosistem itu dapat mempengaruhi pembangunan kesenian kota dengan membangun institusi pendidikan. Siapa tahu nantinya ada Institut Kesenian Bogor? Saya kuliah di IKB ngambil jurusan kekuratoran seni­. Sumber daya manusianya (SDM) datang dari tiga kota tersebut –Jakarta, Bandung dan Yogyakarta? Institusi pendidikan memang faktor terpenting, di situ produksi-distribusi-konsumsi paling bisa tumbuh.

Jika melihat banyaknya pelaku seni asli Bogor yang merantau ke tiga kota itu, menghidupkan iklim tidak akan sulit. Tidak akan dimulai dari null. Seni rupa di Jakarta, Bandung dan Yogyakarta sudah mapan. Kita mengenal mana yang Jakarta banget, mana yang Bandung banget, dan mana yang Jogja banget. Artinya, pola kesenian ketiga kota itu sudah punya pakem karena terus dipraktikkan. Mengemas pola kerja kesenian dari kota tersebut dan menjadikannya sebuah formula yang baru akan sulit, karena tidak akan ada formula yang tepat untuk kerja kesenian. Tapi yang sangat memungkinkan adalah meminjamnya, atau bahkan mencurinya. Tidak harus dimulai dari pola kerja, tetapi visualnya. Melalui pameran Hujan Keras!, Gerakan Seni Rupa Bogor mencoba memberi pengalaman visual baru kepada publik di Bogor. Tidak melulu latar belakang seni rupa, perupa yang terlibat di Hujan Keras! perlahan mencoba mewujudkan utopia seni rupa di Kota Hujan menjadi nyata.

Membaca Hujan Keras!, Mencari Pembaruan

Tajuk ‘Hujan Keras!’ mencoba menggambarkan ciri kota Bogor dengan frasa sederhana: Bogor dikenal sebagai kota dengan curah hujan yang tinggi, maka dari itu konotasinya adalah ‘Kota Hujan’ atau ‘Hujan’. Selain itu, Bogor juga dikenal karena skena musiknya yang dihujani band-band beraliran musik keras. Band yang direspons adalah: The Kuda, The Safari, Revolt, Cause, Take One Step, The Jansen, Merah Berdarah, Terapi Urine, Mary Ann, Tex Pack, Sugar Kane, Stand Clear, Heaven In, Deafness dan Ascender.

Media poster dipilih untuk menyesuaikan segmentasi Festival Taman Kencana itu sendiri (FTK), yaitu anak muda 20 - 27 tahun lingkup subkultur Bogor. Festival ini mewadahi kolektif-kolektif kreatif untuk berkontribusi sesuai dengan bidangnya. Maka dari itu, ada rentetan band, pemutaran film, pembacaan puisi, wayang golek khas Sunda, ‘Si Cepot’, dan pameran seni. Media poster terbilang mudah untuk dicerna, dibantu pula dengan pendekatannya pada seni musik, sebagaimana seni rupa dan seni musik kerap berjalan seiringan di kota ini.

Secara visual, karya-karyanya beragam dan hampir seluruhnya mendobrak estetika tinta hitam yang umum kita kenal (di Bogor). Hal ini memberikan pengalaman visual yang berbeda. Beberapa perupa bahkan bermain dengan media selain cetak digital. Seperti Tri Asrie, di kertas berbentuk persegi ia merespons band The Safari dengan lukisan gouache. Lalu, ada Alienpang dengan ‘Estetika Alienpang’-nya merespons band Merah Berdarah di media kain. Dan Denis Heryanto, yang menggunakan teknik sablon (cetak saring/screenprint) merepons Mary Ann. Hal menarik lainnya adalah beberapa karya justru menghilangkan ‘keras’ di ‘Hujan Keras’. Seperti Ardini Azzah dengan karya doodle-nya mengilustrasikan ‘Hantu Laut’ (The Kuda), berbeda dengan Inas Savero yang juga mengilustrasikan lagu serupa, visualnya lebih kasar. Ada pun lagu ‘Endless Starving’ milik Deafness yang muatannya seram dan katastrofis dipelintir oleh Mahdi Albart dengan visual yang sama sekali tidak seram dan katastrofis.

Dimana letak Jakarta, Bandung dan Yogyakarta di tenda kecil itu belum terlihat. Hujan Keras! harus dilakukan berkali-kali dengan format yang terus diperbarui. Pameran ini seperti ajang mengenalkan diri, para perupa membawa ragam visual yang otomatis hasil dari pengalaman mereka bergiat dan menikmati visual di kota-kota itu. Hal ini tidak ditemukan di karya-karya penganut estetika tinta hitam Bogor.

Selain baru secara visual, Hujan Keras! juga baru secara praktik berpameran. Tenda itu bagai simulasi ruang pamer. Pendatang seperti sedang memasuki galeri kecil sebesar 2 x 2 meter, dan menikmati tiap karya yang digantung dan disoroti lampu kuning. Layaknya mengunjungi pameran, mereka meluangkan waktu untuk foto-foto sebagai bukti kalau mereka sudah menjadi bagian dari pameran ini. Sebelum masuk ‘galeri’, terpampang poster beserta penulisan pameran, sehingga pendatang tidak hanya melihat karya dan iya iya saja, tetapi juga memahami garis besar pamerannya. Penanganan karya seni (art handling) dimulai dari pemasangan (display), tata letak karya dan lampu sorot, dan manajemen artistik, dikepalai Luthfi Nur Septian. Salah satu penggagas kolektif Gerakan Seni Rupa Bogor.

Ada 25 perupa yang ikut serta, masing-masing dengan satu karya. 14 perupa dijodohkan dengan band-band terpilih oleh Henrico Prasetyo, Muhammad Fauzan dan Rizki Pasadana. Sisanya, melalui sistem open submission atau pendaftaran terbuka. Poster-poster dengan ciri visual yang menarik dirancang oleh Denis Heryanto dan Ilham Kholid. Mereka adalah pelaku-pelaku muda yang tergabung di Gerakan Seni Rupa Bogor.

Pembaruan di Hujan Keras! tidak bisa dilihat dari segi visualnya saja. Praktiknya pun, seperti disebut di muka, membawa sistem pameran yang ‘lengkap’ untuk Bogor. Inilah usaha awal Gerakan Seni Rupa Bogor mengisi ruang yang melulu kosong bernama seni rupa, di rumahnya.

Gerakan Seni Rupa Bogor:
‘Manifesto’ Pertama di Bandung Zine Fest 2016


Gerakan Seni Rupa Bogor adalah kelompok kolektif yang terdiri dari manajer, desainer dan penulis seni rupa. Kolektif ini memiliki fokus untuk mengkaji dan mengkritis ekosistem seni rupa kota Bogor dengan menyelenggarakan pameran dan penyusunan produk kajian. Sebelum Hujan Keras!, Gerakan Seni Rupa Bogor ikut serta di Bandung Zine Fest 2016, di sanalah ‘manifesto’ mereka pertama kali dipublikasikan dalam bentuk zine.

Meski tidak tertera ‘manifesto’ itu, Gerakan Seni Rupa Bogor mengemas buah pikirannya menjadi wawancara. Apa yang mereka coba kaji dan kritik perihal serba-serbi seni rupa di kotanya, berubah bentuk menjadi butir-butir pertanyaan untuk dijawab oleh para narasumber. Kolektif ini prihatin terhadap ekosistem seni rupa di Bogor, dan ingin memberikan kontribusi. Sama seperti perupa-perupa Hujan Keras!, mereka adalah penduduk Bogor yang bergiat di luar kota, banyaknya Jakarta. Bahkan, sebagian masih menempuh pendidikan seni rupa.

Seni rupa di Bogor yang diidam-idamkan itu ada, kita bisa mencarinya di sela-sela hujan. Hadirnya Hujan Keras! Music Poster Exhibition sebagai pameran yang ‘lengkap’ mungkin bisa memantik wacana-wacana baru. Sampai kapan? Saya pun tidak tahu. Saya rasa tidak perlu lama. Biar saya menutup penulisan ini dengan celetuk usil Gerakan Seni Rupa Bogor: Sedia payung sebelum Bogor.


Esai ini adalah pengantar pameran Hujan Keras! Exhibition