Tentang yang Gelap

img

Kita mengenal dualisme. Bahwa segala suatu memiliki dua sisi yang berbeda. Siang dan malam kita temui tiap harinya. Memulai hari dengan membuka mata dan tirai jendela, membiarkan cahaya masuk memenuhi seisi kamar, menutup hari dengan kembali menutup tirai, mematikan lampu dan menutup mata. Dimulai dengan terang, lalu kembali pada kegelapan. Bahkan suatu benda yang disorot oleh lampu pun akan tetap menunjukkan bayang-bayang kegelapan, entah di samping maupun di bawahnya. Kegelapan, bagaikan sebuah Kotak Pandora yang berisikan segala macam keburukan namun sebetulnya begitu dekat dengan kehidupan kita. Begitu menakutkan, namun memesona. Apa itu kegelapan?

Kegelapan adalah wujud ketakutan beberapa dari kita. Ruang di mana para hantu dan kejahatan berkumpul, merencanakan diam-diam kapan untuk menyergap mangsanya dari belakang. Kemudian menarik kita masuk ke dalam ruang itu, dan berharap kita tak bisa keluar dari dalamnya. Maka tidak heran banyak anak-anak yang enggan untuk mematikan lampu ketika tidur. Atau munculnya larangan-larangan seperti tidak diperbolehkannya anak-anak untuk keluar rumah selewat waktu Maghrib. Tidak, kegelapan bukanlah musuh terbesar anak-anak saja. Para orang dewasa menghiasi tiap sudut dengan lampu-lampu yang begitu terang menyala di kala malam. Kepanikan melanda seisi kota karena mati listrik. Meski demikian dengan seiringnya waktu, kegelapan seakan makin memikat kita. Ruang-ruang remang yang ditakuti anak-anak kini diisikan oleh orang-orang dewasa hingga langit kembali menerang. Menghabiskan waktu dengan apa yang mereka sukai tanpa takut dihakimi mata-mata yang mengenal mereka. Begitu pula dengan karya seni.  Karya-karya seni mengenai sisi gelap manusia terus diproduksi. Menyalurkan sisi-sisi gelap manusia yang tidak secara gamblang mereka tunjukkan dalam kesehariannya. Untuk kemudian dinikmati, dan diapresiasi bersama lewat caranya masing-masing. Mengenal kegelapan merupakan salah satu jalan untuk mengenal diri sendiri dan orang lain secara lebih dalam, kegelapan merupakan proses pendewasaan.

Begitu pula dengan Dimas 'Saterflesh' Putra dalam Reminiscence of Darkness yang mengangkat 'kegelapan' sebagai konsepnya. Saterflesh seperti mengajak kita untuk berkenalan dengan 'kegelapan' yang kerap ia angkat dalam karya-karyanya. 'Konflik', tema yang dulu kerap ia angkat, diyakini oleh Saterflesh sebagai salah satu contoh atas perwujudan 'kegelapan' tersebut. Melalui pameran ini pula, Saterflesh mencoba melihat kembali seberapa jauh ia telah berkembang, menjadi dewasa, sebagai seorang seniman. Kembali mengangkat tema yang dulu kerap ia bahas dengan segala pengetahuan serta keahlian baru yang telah ia pelajari maupun keahlian lama yang terus ia asah. Melalui pameran ini, pengunjung tidak hanya disuguhkan dengan pandangan Saterflesh mengenai 'kegelapan' saja, namun juga untuk mengenal diri Saterflesh sendiri secara lebih dalam.

Dengan goresan pensil, batang arang, serta cat akrilik yang terkesan 'keras' bahkan 'brutal', Saterflesh menghasilkan 4 seri karya yang mungkin menjadi pemandangan baru bagi warga Bogor. Di kafe Cohere yang pada akhir pekan dipadati oleh pendatang maupun warga setempat, di mana mereka berharap dapat menghabiskan waktu dengan bersenda gurau, di sanalah Saterflesh memampangkan 'kebrutalan' tersebut. Beyond the Camera, begitu Saterflesh memberikan judul pada seri yang menggambarkan potongan-potongan potret manusia. Selayaknya sebuah gambar yang ditangkap oleh kamera, manusia yang digambarkan hanya merupakan potongan-potongan atas suatu yang utuh. Sebuah kamera tak bisa menangkap secara penuh konteks di belakang suatu potret. Bahwa yang ditunjukkan hanyalah bagian yang memang ingin atau perlu ditunjukkan saja. Potret mengabadikan momen, pun mengabadikan kepalsuan yang dipilih untuk menutupi konteks utuh di balik momen tersebut.

Meski demikian, potret merupakan wujud atas sudut pandang manusia. Melihat fragmen dari suatu kejadian yang tentu memiliki konteks yang besar di baliknya merupakan suatu hal yang umum, bahkan manusiawi. Tiap orang memiliki sudut pandangnya sendiri, dan sudut pandang itulah yang kemudian membedakan kita dengan manusia lainnya. Seperti dalam karyanya yang berjudul What People See is Not What I See. Perbedaan sudut pandang manusia tidak hanya melahirkan keunikan, namun juga melahirkan konflik. Konflik yang terjadi karena perbedaan sudut pandang tersebut kemudian diimajikan oleh Saterflesh ke dalam sebuah seri yang berisikan berbagai ekspresi wajah manusia. Namun dalam realitanya, konflik tidak hanya berhenti sampai di situ saja. Konflik bukan hanya merupakan hal yang buruk, namun dapat menjadi bahan refleksi yang baik bagi manusia. Mempelajari dari konflik yang telah terjadi di masa lalu, mendorong manusia untuk menjadi lebih dewasa dalam menanggapi suatu permasalahan yang dapat terjadi di kemudian hari. Proses pendewasaan dan belajar tersebut tentu bisa didapatkan melalui refleksi. Namun, apa yang terjadi bila kita hanya dapat melihat kegelapan dalam refleksi tersebut? Di saat itulah, Saterflesh menggambarkannya dalam karya yang berjudul Conflict. Conflict menjadi cerminan hitam atas seri What People See is Not What I See. Sebuah fase di mana kita tak lagi dapat melihat diri kita sendiri, bahwa terkadang 'kegelapan' terlalu menyelimuti manusia hingga manusia tak lagi dapat melihat apa yang sebenarnya tengah terjadi. 

'Konflik' bagaikan tidak memiliki ujung, dan 'kegelapan' bagaikan hantu yang terus mengikuti kita. 'Kegelapan' memang kadang tidak terlihat, namun selalu ada dan hadir dalam tiap langkah manusia. Seperti faham dualitas: tidak ada yang 'putih' tanpa ada yang 'hitam'. Seberapa pun cahaya yang ditembakkan ke yang 'putih', akan selalu menghasilkan bayangan yang 'hitam'. Maka dari itu, manusia belajar untuk memaklumi. Saterflesh dalam karyanya yang berjudul Close Enough, menggambarkan pemakluman tersebut. Pemakluman merupakan wujud atas kedewasaan, karena rasa maklum muncul dari pengetahuan atas konteks yang ada di balik segala sesuatu. Menjadi tahap di mana manusia menyadari bahwa 'kegelapan' akan selalu ada di balik yang 'putih'.

Mengenang kembali 'kegelapan' memang bukan suatu hal yang mudah. Beberapa orang meyakini bahwa waktu akan menyembuhkan luka, maka darinya janganlah mengingat hal-hal buruk yang dulu terjadi. Namun tanpa mengenang, proses pendewasaan itu mungkin mustahil untuk terjadi, karena kita enggan untuk kembali belajar dari masa lalu. Reminiscence of Darkness hadir sebagai pengingat bagi kita. Manusia tidak akan pernah bisa lepas dari 'kegelapan', Karena untuk bertahan hidup di dunia sekarang ini, jauh dari 'konflik' dan 'kegelapan' bukanlah menjadi persyaratannya. Namun uang untuk bertahan hidup, dan beristirahat untuk dapat kembali mencari uang. Beristirahat dengan optimal bisa kita dapatkan melalui tidur dengan mematikan lampu. Toh bila dihitung-hitung, mematikan lampu di saat tidur bisa memangkas biaya pengeluaran listrik bulanan kita. Waktu istirahat menjadi lebih optimal, serta memungkinkan kita untuk menabung karena mematikan lampu sebagai bentuk nyata dari penghematan. Terima kasih kegelapan, berkatmu, kita bisa bertahan hidup